Foto:
instagram.com/jtbcdrama
Itulah hal yang diingat Cho Sam-dal
ketika hantaman skandal menimpanya. Kejatuhannya dimulai dari playing victim rivalnya, yang tak lain
adalah anak didik yang juga asistennya sendiri. Karier fotografer yang telah ia
bangun selama 15 tahun hancur seketika. Komentar dan penilaian sepihak dari
publik membuatnya semakin terpuruk.
Pelajaran dari pelatihan menjadi Haenyeo (perempuan laut—penyelam
perempuan yang berprofesi untuk memanen hasil laut) mengingatkannya kembali
tentang kampung halamannya, Pulau Jeju. Kampung halaman yang selama ini ia
nafikan semenjak ia pindah ke Seoul. Bahkan ketika pindah ke Seoul, dia
mengganti namanya menjadi Cho Eun-hye
Welcome to Samdal-ri membuka episode pertamanya dengan konflik yang dialami
tokoh utama Cho Sam-dal dengan mengangkat isu perbedaan karakter antargenerasi
dan victim mentality.
Perbedaan Karakter Antargenerasi
“Orang seusianya
memiliki banyak hal dalam benaknya.”
“Benar. Mereka merasa
tahu segalanya.”
“Dia pasti sangat
ingin tampil”
Komentar ini menjadi perbincangan antara Cho
Sam-dal dan teman-teman seangkatannya ketika membicarakan asisten Cho Sam-dal. Perbedaan
usia juga membuat perbedaan sudut pandang ketika menghadapi suatu hal. Cho
Sam-dal digambarkan sebagai sosok kuat dan tahan banting. Hal ini dibuktikan
dengan pengalamannya sebagai asisten yang melayani seniornya selama 9 tahun.
Adapun asistennya—yang notabene sangat ingin
tampil tapi belum mempunyai kemampuan mumpuni—selalu menanggapi perkataan Cho
Sam-dal sebagai bentuk perundungan yang dengan mudahnya meruntuhkan mentalnya. Sikap
asisten Cho Sam-dal ini dapat dikatakan sebagai generasi stroberi. Generasi
yang lembek, mudah tergerus mentalnya akibat perkataan dan perlakuan yang
menilai objektif akan kinerjanya. Penilaian objektif akan kinerjanya
didengarnya sebagai bentuk pelecehan yang membuat kepercayaan diri dan harga
dirinya runtuh. Alih-alih menyadari tentang ketidaksiapan dan kurangnya
kompetensi untuk tampil, tapi malah menyalahkan perkataan orang lain sebagai
bentuk perundungan.
Gangguan Kesehatan
Mental: Victim Mentality
“Kau pernah injak kotoran? Kau kesal saat menyadarinya.
Namun kau abaikan itu. Kau bersihkan dan lanjutkan. Seperti itu kalian bagiku.
Kotoran.”
Itulah perkataan terakhir yang didengar asisten Cho
Sam-dal sebelum percobaan bunuh diri yang dilakukannya. Asistennya menggunakan
kelemahan mentalnya untuk menyerang Cho Sam-dal. Percobaan bunuh diri yang
dilakukannya berhasil membuat penilaian publik yang menjadi bumerang bagi Cho
Sam-dal. Asistennya melakukan playing
victim bahwa dia mendapat perlakuan semena-mena dari fotografer atasannya.
Hingga muncul isu sosial: penyalahgunaan kekuasaan dan pelecehan verbal
Asisten Cho Sam-dal yang diceritakan berusia 30
tahun merupakan gambaran generasi yang sangat rentan mentalnya terganggu. Apa
yang telah dilakukan asisten Cho Sam-dal mulai dari upayanya untuk menarik
perhatian dengan menggoda pacar Cho Sam-dal (hingga akhirnya pacarnya
menyelingkuhi Cho Sam-dal), mengaku kepercayaan diri runtuh akibat perkataan
Cho Sam-dal, hingga percobaan bunuh diri karena mengaku mendapat pelecehan
verbal merupakan gejala kesehatan mentalnya terganggu. Dia tak menyadari akan
kapasitas dan kemampuan dirinya, tetapi selalu merasa paling benar dan paling
bisa. Dia tak menyadari apa yang dia lakukan merugikan dirinya sendiri dan
orang lain.
Akibat playing
victim yang dilakukan asistennya—tanpa bisa membuat pembelaan diri—Cho
Sam-dal akhirnya terpuruk menjelang pameran selebrasi karier fotografernya
selama 15 tahun. Dia semakin jatuh ketika beberapa klien membatalkan kerja
sama. Hal inilah yang membatnya akhirnya kembali ke kampung halamannya, Pulau
Jeju.
Welcome to Samdal-ri episode pertama ini mengajarkan tentang
pentingnya menjaga kesehatan mental dan mencintai diri sendiri. Sadar akan
kapasitas dan kemampuan diri adalah hal penting yang harus kita perhatikan.
Jadi ketika terjadi suatu hal, kita tidak menyalahkan orang lain atau selalu
merasa menjadi korban. Dengan kesadaran penuh, kita dapat introspeksi diri
sendiri. Seperti halnya analogi seorang Haenyeo untuk tidak serakah, jangan terlalu berambisi,
di dalam air sekuat tubuh bernapas, dan apabila sudah tidak dapat menahan napas
di dalam laut, naiklah ke permukaan untuk mengambil napas.