Sabtu, 09 Desember 2023

Welcome to Samdal-ri: Konflik yang Berawal dari Mentality Victim

Foto: instagram.com/jtbcdrama

 Di kampung halamanku Pulau Jeju, pelajaran terpenting dalam pelatihan Haenyeo adalah “Jangan serakah. Tetap di bawah air selama kau kuat menahan napas. Lautan mungkin tenang, tetapi penuh bahaya. Jadi, tetap di bawah air sekuat tubuhmu. Saat kau tak tahan lagi naiklah ke permukaan lagi untuk mengatur napasmu. Jangan terlalu berambisi. Ikuti napasmu! Jangan terlalu berambisi dan biarkan napasmu memimpin. Saat kau tak bisa menahannya lagi, naiklah ke permukaan dan bernapas.”

 

Itulah hal yang diingat Cho Sam-dal ketika hantaman skandal menimpanya. Kejatuhannya dimulai dari playing victim rivalnya, yang tak lain adalah anak didik yang juga asistennya sendiri. Karier fotografer yang telah ia bangun selama 15 tahun hancur seketika. Komentar dan penilaian sepihak dari publik membuatnya semakin terpuruk.

 

Pelajaran dari pelatihan menjadi Haenyeo (perempuan laut—penyelam perempuan yang berprofesi untuk memanen hasil laut) mengingatkannya kembali tentang kampung halamannya, Pulau Jeju. Kampung halaman yang selama ini ia nafikan semenjak ia pindah ke Seoul. Bahkan ketika pindah ke Seoul, dia mengganti namanya menjadi Cho Eun-hye

 

Welcome to Samdal-ri membuka episode pertamanya dengan konflik yang dialami tokoh utama Cho Sam-dal dengan mengangkat isu perbedaan karakter antargenerasi dan victim mentality.  

 

Perbedaan Karakter Antargenerasi

“Orang seusianya memiliki banyak hal dalam benaknya.”

“Benar. Mereka merasa tahu segalanya.”

“Dia pasti sangat ingin tampil”

 

Komentar ini menjadi perbincangan antara Cho Sam-dal dan teman-teman seangkatannya ketika membicarakan asisten Cho Sam-dal. Perbedaan usia juga membuat perbedaan sudut pandang ketika menghadapi suatu hal. Cho Sam-dal digambarkan sebagai sosok kuat dan tahan banting. Hal ini dibuktikan dengan pengalamannya sebagai asisten yang melayani seniornya selama 9 tahun.

 

Adapun asistennya—yang notabene sangat ingin tampil tapi belum mempunyai kemampuan mumpuni—selalu menanggapi perkataan Cho Sam-dal sebagai bentuk perundungan yang dengan mudahnya meruntuhkan mentalnya. Sikap asisten Cho Sam-dal ini dapat dikatakan sebagai generasi stroberi. Generasi yang lembek, mudah tergerus mentalnya akibat perkataan dan perlakuan yang menilai objektif akan kinerjanya. Penilaian objektif akan kinerjanya didengarnya sebagai bentuk pelecehan yang membuat kepercayaan diri dan harga dirinya runtuh. Alih-alih menyadari tentang ketidaksiapan dan kurangnya kompetensi untuk tampil, tapi malah menyalahkan perkataan orang lain sebagai bentuk perundungan.

 

Gangguan Kesehatan Mental: Victim Mentality  

“Kau pernah injak kotoran? Kau kesal saat menyadarinya. Namun kau abaikan itu. Kau bersihkan dan lanjutkan. Seperti itu kalian bagiku. Kotoran.”

 

Itulah perkataan terakhir yang didengar asisten Cho Sam-dal sebelum percobaan bunuh diri yang dilakukannya. Asistennya menggunakan kelemahan mentalnya untuk menyerang Cho Sam-dal. Percobaan bunuh diri yang dilakukannya berhasil membuat penilaian publik yang menjadi bumerang bagi Cho Sam-dal. Asistennya melakukan playing victim bahwa dia mendapat perlakuan semena-mena dari fotografer atasannya. Hingga muncul isu sosial: penyalahgunaan kekuasaan dan pelecehan verbal

 

Asisten Cho Sam-dal yang diceritakan berusia 30 tahun merupakan gambaran generasi yang sangat rentan mentalnya terganggu. Apa yang telah dilakukan asisten Cho Sam-dal mulai dari upayanya untuk menarik perhatian dengan menggoda pacar Cho Sam-dal (hingga akhirnya pacarnya menyelingkuhi Cho Sam-dal), mengaku kepercayaan diri runtuh akibat perkataan Cho Sam-dal, hingga percobaan bunuh diri karena mengaku mendapat pelecehan verbal merupakan gejala kesehatan mentalnya terganggu. Dia tak menyadari akan kapasitas dan kemampuan dirinya, tetapi selalu merasa paling benar dan paling bisa. Dia tak menyadari apa yang dia lakukan merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

 

Akibat playing victim yang dilakukan asistennya—tanpa bisa membuat pembelaan diri—Cho Sam-dal akhirnya terpuruk menjelang pameran selebrasi karier fotografernya selama 15 tahun. Dia semakin jatuh ketika beberapa klien membatalkan kerja sama. Hal inilah yang membatnya akhirnya kembali ke kampung halamannya, Pulau Jeju.

 

Welcome to Samdal-ri episode pertama ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan mencintai diri sendiri. Sadar akan kapasitas dan kemampuan diri adalah hal penting yang harus kita perhatikan. Jadi ketika terjadi suatu hal, kita tidak menyalahkan orang lain atau selalu merasa menjadi korban. Dengan kesadaran penuh, kita dapat introspeksi diri sendiri. Seperti halnya analogi seorang Haenyeo untuk tidak serakah, jangan terlalu berambisi, di dalam air sekuat tubuh bernapas, dan apabila sudah tidak dapat menahan napas di dalam laut, naiklah ke permukaan untuk mengambil napas.

Sabtu, 30 September 2023

Fenomena "Berchandya": Ragam Lisan Bahasa Indonesia yang Semakin Dinamis

Foto: Youtube Lapor Pak

Ragam lisan penggunaan bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang yang sangat dinamis. Dalam perkembangannya, penggunaan bahasa Indonesia dipengaruhi kreativitas penggunanya. Seperti kata yang sering terdengar akhir-akhir ini, yaitu berchandya. Kata ini pertama kali dicetuskan Abigail Manurung atau yang lebih dikenal sebagai Gege, mahasiswa baru Psikologi UGM sebagai respons dari ucapannya sendiri yang mengatakannya bahwa dirinya memang pintar hingga dapat lolos masuk kampus tertua di Indonesia tersebut. Jargon berchandya menjadi viral dengan cara pengucapannya yang khas ala Gege

‘Berchandya’ dalam Ilmu Fonologi

Dalam Fonologi, berchandya termasuk dalam gejala perubahan bunyi bahasa Indonesia yang disebut epentesis. Epentesis adalah penyisipan bunyi atau huruf ke dalam kata (Kridalaksana,  2009: 58). Menurut Chaer dalam Fonologi Bahasa Indonesia (2013), epentesis adalah penambahan bunyi pada tengah kata.

Berchandya berasal dari kata bercanda. Epentesis yang terjadi pada kata berchandya adalah penambahan fonem ‘h’ dan ‘y’ pada kata bercanda yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ‘berkelakar; bersenda gurau; berseloroh. Berchandya ala Gege mengalami perubahan bunyi tapi tidak mengubah makna.

Contoh lain dari epentesis adalah kata-kata lain yang sering diucapkan Gege dalam salah siniar atau di salah satu episode Lapor Pak seperti betyul, setujyu, ajya. Selain kata-kata yang diucapkan Gege, ada sejumlah kata-kata senada yang mengalami proses epentesis, seperti pinjyam, seratyus, beracyun, akyu, kamyu, adya. Kata-kata dengan penyisipan fonem ‘y’ merupakan kata-kata khas generasi Z yang mewarnai ragam cakap keseharian mereka.

Ragam Cakap Bahasa Indonesia yang Semakin Kreatif

Kepopuleran kata berchandya semakin menunjukkan kreativitas pengguna bahasa Indonesia. Inilah bukti bahwa bahasa itu bersifat dinamis. Perkembangan zaman dan pengaruh lingkungan menjadikan bahasa menjadi ajang kreativitas manusia. Apakah ini akan merusak bahasa Indonesia? Selama penggunanya menggunakan kata dalam konteks yang sesuai, setiap bentuk baru kreativitas bahasa akan menambah kekayaan bahasa Indonesia.

“Artikel ini merupakan challenge webinar ‘Content Writing Avanced: Trik Membuat Artkel Viral Tanpa Clickbait’ di kelasbersama.id dengan pemateri Silvia Ayudia Noorty” 

Referensi:

Chaer, Abdul. 2013. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

 

 


Welcome to Samdal-ri: Konflik yang Berawal dari Mentality Victim

Foto: instagram.com/jtbcdrama   Di kampung halamanku Pulau Jeju, pelajaran terpenting dalam pelatihan Haenyeo adalah “Jangan serakah. Tetap ...