Sabtu, 30 September 2023

Fenomena "Berchandya": Ragam Lisan Bahasa Indonesia yang Semakin Dinamis

Foto: Youtube Lapor Pak

Ragam lisan penggunaan bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang yang sangat dinamis. Dalam perkembangannya, penggunaan bahasa Indonesia dipengaruhi kreativitas penggunanya. Seperti kata yang sering terdengar akhir-akhir ini, yaitu berchandya. Kata ini pertama kali dicetuskan Abigail Manurung atau yang lebih dikenal sebagai Gege, mahasiswa baru Psikologi UGM sebagai respons dari ucapannya sendiri yang mengatakannya bahwa dirinya memang pintar hingga dapat lolos masuk kampus tertua di Indonesia tersebut. Jargon berchandya menjadi viral dengan cara pengucapannya yang khas ala Gege

‘Berchandya’ dalam Ilmu Fonologi

Dalam Fonologi, berchandya termasuk dalam gejala perubahan bunyi bahasa Indonesia yang disebut epentesis. Epentesis adalah penyisipan bunyi atau huruf ke dalam kata (Kridalaksana,  2009: 58). Menurut Chaer dalam Fonologi Bahasa Indonesia (2013), epentesis adalah penambahan bunyi pada tengah kata.

Berchandya berasal dari kata bercanda. Epentesis yang terjadi pada kata berchandya adalah penambahan fonem ‘h’ dan ‘y’ pada kata bercanda yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti ‘berkelakar; bersenda gurau; berseloroh. Berchandya ala Gege mengalami perubahan bunyi tapi tidak mengubah makna.

Contoh lain dari epentesis adalah kata-kata lain yang sering diucapkan Gege dalam salah siniar atau di salah satu episode Lapor Pak seperti betyul, setujyu, ajya. Selain kata-kata yang diucapkan Gege, ada sejumlah kata-kata senada yang mengalami proses epentesis, seperti pinjyam, seratyus, beracyun, akyu, kamyu, adya. Kata-kata dengan penyisipan fonem ‘y’ merupakan kata-kata khas generasi Z yang mewarnai ragam cakap keseharian mereka.

Ragam Cakap Bahasa Indonesia yang Semakin Kreatif

Kepopuleran kata berchandya semakin menunjukkan kreativitas pengguna bahasa Indonesia. Inilah bukti bahwa bahasa itu bersifat dinamis. Perkembangan zaman dan pengaruh lingkungan menjadikan bahasa menjadi ajang kreativitas manusia. Apakah ini akan merusak bahasa Indonesia? Selama penggunanya menggunakan kata dalam konteks yang sesuai, setiap bentuk baru kreativitas bahasa akan menambah kekayaan bahasa Indonesia.

“Artikel ini merupakan challenge webinar ‘Content Writing Avanced: Trik Membuat Artkel Viral Tanpa Clickbait’ di kelasbersama.id dengan pemateri Silvia Ayudia Noorty” 

Referensi:

Chaer, Abdul. 2013. Fonologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, Harimurti. 2009. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Welcome to Samdal-ri: Konflik yang Berawal dari Mentality Victim

Foto: instagram.com/jtbcdrama   Di kampung halamanku Pulau Jeju, pelajaran terpenting dalam pelatihan Haenyeo adalah “Jangan serakah. Tetap ...